Entri Populer

Kamis, 02 September 2010

SMA Ronggur, Tak ada dramb tutup pancipun jadi



Memeriahkan HUT kemerdekaan RI ke-65 di Kecamatan Ronggur Nihuta
dilaksanakan di Lokasi Kantor Camat. Dihadiri anak-anak sekolah SD,
SMP dan SMA se-Kecamatan Ronggur Nihuta serta masyarakat tidak berbeda
seperti di Kecamatan-kecamatan laikn di Samosir. Usai upacara diisi
dengan acara-acara hiburan dari kalangan anak-anak sekolah. Tapi
perayaan HUT sepertinya tidak sempurna tanpa satupun Marchine Band,
mungkin hal inilah yang memotofasi murid-murid SMA N 1 Ronggur Nihuta
hingga sekolah tersebut beberapakali mengusulkan kepada pemerintah
untuk diberikan seperangkat alat Marchin Band. Walau permohonan tak
kunjung dikabulkan namun niat murid-murid yang terbentuk dalan grup
marchin band SMA N 1 Ronggur Nihuta tidak menjadi penghalang untuk
memeriahkan HUT kemerdekaan RI ke-65.

Tutup panci, ember cat serta kaleng roti diberdayakan sebagai alat
music untuk Marcin Band dengan ranting skayu jadi pemukul. Gagang sapu
dijadikan tongkat mayored serta topi dari karton manila. Untuk melodi
mereka menggunakan satu seruling serta meminjam 3 buah pianika. Semua
peralatan tersebut kecuali pianikan adalah hasil upaya dari
masing-masing murid.

Suaranya tentu tidak sama seperti marchin band pada umumnya, namun
derap langkah dan ketukannya serta gerakan dari mayored sangat
memukau.

Untuk menyesuaikan suara kaleng roti terhadap emmber cat serta tutup
panji mereka membutuhkan waktu satu minggu penuh latihan. Mereka harus
belajar memukul ember cat, apakah di posisi tengah atau di posisi
pinggir agar nada yang dikeluarkan ember lebih sesuai. Demikian juga
halnya dengan kaleng roti dan tutup panci.

Menurut kepala sekolah Parlindungan Togatorop, selama latihan
murid-murid sudah beberapa kali mengganti kaleng roti karena lecet.
Demikian juga tutup panci stenles.

Demi semangat anak-anak SMU orang tua mereka merelakan tutup-tutup
panci mereka korban demi memeriahkan HUT RI. Seperti pengakuan Marihot
Siringo-ringo murid kelas satu. Ia membawa 2 buah tutup panci dari
rumah atas ijin orang tuanya. Tampak pinggiran tutup panci sudah
terkoyak-koyak.

Drang, drang, dum..disusul dengan suara melodi pianika dan seruling.
Masyarakat dari halaman rumah ikut bernyanyi "halo..halo Bandung, ibu
kota periangan.." Sepanjang 2 KM mereka melakukan pawai menuju
lapangan kantor camat tempat upacara berlangsung.

Menjelang tiba di tanah lapang beberapa kaleng roti harus diganti
karena sudah lecet. Dengan tujuan agar suaranya tetap stabil.

Tigaratus meter dari tanah lapang, mayoret meluruskan barisan dengan
tongkat mayoretnya yang terbuat dari gagang sapu. Mayoret yang satu
lagi memberikan isyarat. Dengan tongkat mayoretnya ia menunjuk ke
belakang.

Dum..dum..dum..barisan paling belakang memukul embernya. Kemudian
serentak barisan depan memukul kaleng roti, dradang..dradang..berhenti
beberapa detik. Suara tutup pancipun terdengar "tas.." disambut dengan
suara lembut pianika melantumkan melodi lagu kemerdekaan "tujuh belas
agustus tahun empat lima...". Dradam..dradam..marchin band itupun
bergerak memasuki lapangan, disambut dengan aplus yang luar biasa tawa
bercampur haru.

Mereka berputar teratur sampai pada paosisi barisan yang sudah di tentukan.

Hanna Sihombing murid kelas satu, mengatakan pada Media Tapanuli
mereka sangat mendambakan sekolahnya bisa memeiliki alat Marchin Band.
Ketika ditanya apakah ia tidak merasa malu dengan kaleng roti
khongguan yang diikat pakai tali plastik? "sama sekali tidak, yang
penting HUT di Ronggur Nihuta meriah. Bahkan saya merasa ini sungguhan
marchin band, meski kaleng akhirnya lecet" jawab Hanna.

Rimbun Naibaho, harapannya tahun depan mudah-mudahan emberny bisa
diganti tahun depan pada perayaan HUT RI ke-66. Yang pentingkan
semangatnya itu, kata Rimbun.

Dari penuturan mereka, secara tiori murid-murid SMA N 1 Runggur Nihuta
sepertinya sudah memahami betul menggunakan Marchin Band. Tapi
bagaimana bisa diketahui karena mereka tidak memiliki marchin band.

Sepertinya impian Hanna dan teman-temannya mendapat secercah harapan
dengan penampilan mereka yang kebetulan disaksikan tiga anggota DPRD,
Jogar Simbolon ST, Pahala Tua Simbolon serta Russel Baringin
Sihotang.

Usai upacara serta acara-acara hiburan, ketiga anggota dewan bersama
mengatakan pada camat dan kepala sekolah mereka akan mengupyakan APBD
tahun 2011 pengadaan Dram Band untuk SMA N 1 Ronggur Nihuta. Hal
tersebut dibenarkan oleh Baringin Sihotang saat dihubungi oleh Media
Tapanuli.

SMA N 1 Ronggur Nihuta baru berdiri tahun 2007 lalu. Menurut salah
seorang mantan anggota DPRD (periode 2004-2009) Marlon Simbolon,
setelah mengetahui tingginya keinginan siswa-siswi SMA Ronggur Nihuta
yang bahkan didukung oleh orang tua murid ia mengatakan. "Sudah sejak
tahun lalu seharusnya mereka memiliki dram ban. Kebetulan saya
termasuk salah satu yang ikut dalam penyerahan laha tersebut pada
tahun 2007. Dan saya tahu kalau itu sudah pernah diusulkan. Tapi
memang Kadis pendidikan kurang peduli dengan pekembangan kemajuan
siswa. Di dinas pendidikan itu tidak ada yang bisa dikatakan serius
kecuali urusan DAK.

Sekaitan dengan marchin band dalam memeriahkan hari ulang tahun
kemerdekaan RI ke-65, Kadis Pendidikan Jabiat Sagala di Hotel Toba
Beach dalam sebuah acara makan siang pernah mengatakan kepada Media
Tapanuli, bahwa kegiatan marchin band di sekolah bukan bagian dari
kurikulum tapi merupakan kegiatan kokurikuler. Dan menurut kadis dalam
rangka memeriahkan  acara ulang tahun kemerdekaan tidak ada anggaran
di dinas pendidikan untuk marchin band.<

Veteran, Hanya diberi lima pelor


 Hanya diberi lima pelor, jika hilang dua, komandan kompi bertanya

"dimana pelormu dua lagi" Kata seorang veteran bermarga Sinurat (84)
pada acara ramah tamah pemerintah kabupaten Samosir dengan anggota
veteran di rumah dinas Bupati, Senin 16/08.

Sinurat menceritakan bagaimana ia ikut jadi sukarelawan untuk merebut
kemerdekaan, ia mendaftar dari tanah karo tahun 1945. Tidak ditanya
tinggi badan, tidak ditanya ijasah, yang penting mau jadi sukarelawan
untuk membela tanah air, langsung diterima, katanya.

Ia mengatakan kalau perjuangan merebut kemerdekaan bukan hanya
perjuangan dari veteran. Tapi kemerdekaan adalah hasil perjuangan
masyarakat pada saat itu. Para pejuang di masa pertempuran juga sangat
tergantung pada masyarakat. Masyarakat menyediakan makanan untuk para
sukarelawan. Tidak jarang sukarelawan perang makan ubi, sebelum nasi
datang dari dapur umum.

Setelah merdeka Sinurat dikaryakan di Jakarta dalam tugas sebagai
kamtib pada tahun 1974. Harapan Sinurat sebagai seorang veteran
berharap agar kemedekaan diisi oleh masyarakat Samosir dengan
mengwujudkan Samosir menjadi Kabupaten Parawisata 2010.

Daya juang veteran patut ditiru, untuk kalangan muda perlu
dikedepankan, kata Bupati Mangindar Simbolon. Ia juga membanggakan
Sinurat seorang veteran dalam usia 84 tahun masih sangat tegar. tentu
tidak lepas dari daya juang yang tinggi dari pak Sinurat, kata
Mangindar. Ia menambahkan untuk membangun Kabupaten Samosir sebagai
kabupaten yang masih baru berdiri, juga harus dibangun dengan daya
juang yang tinggi dari pemerintah dan masyarakat.

Acara ramah tamah yang dilanjutkan dengan pengukuhan paskibraka
tersebut juga dihadiri Kapolres, Danramil dan para jajaran SKPD
Kabupaten Samosir.<<

Rumah Sakit Dr Hadrianus Sinaga direhap

Peletakan batu pertama Rumah Sakit Dr Handrianus Sinaga Pangururan

Hayun Gultom, Pangururan
Rumah Sakit Dr Handrianus Sinaga Pangururan yang mulai berdiri pada tahun 1957 atau upaya dari Menteri Kesehatan pada masa itu Dr Handrianus Sinaga. Tahun ini menerima dana sebesar 30 milliar membangun kembali gedung baru sebanyak 12 unit setelah membongkar gedung lama yang sudah tidak layak pakai. Pelaksanaannya direncanakan akan selesai pada Desember tahun ini.

Menurut kepala rumah sakit Dr Nipan Karo-karo kepada Media Tapanuli saat acara peletakan batu pertama Senin 30/8 di lokasi Rumah Sakit mengatakan, selama proses pembangunan peyanan rumah sakit tetap seperti biasa. Namun untuk rawat inap tentu mengalami kendala karena sebagian gedung sudah dibongkar. Saat ini ruangan untuk rawat ini hanya untuk kelas III. Tapi dari segi pelayanan medisnya tidak ada masalah.

Lokasi Rumah Sakit yang terletak di pinggir Danau tepatnya di Kelurahan Pintu Sona Kecamatan Pangururan adalah lahan milik marga Naibaho dan Simbolon yang diserahkan pada pemerintah pada tahun 1956 yang pada masa itu masih Tapanuli Utara dengan Dierektur pertama RT Simamata.

Jabarang Simbolon salah seorang dari keluarga yang menyerahakan lahan mengatakan "lokasi ini diserahkan pada 1956 bersamaan dengan lokasi SMA N 1 dengan biaya tolak cangkul sebesar  Rp.15.000. Dan selama kurang lebih 55 tahun bangunan rumah sakit baru kali ini melakukan pembangunan. Ia menyampaikan terimakasih kepada pemerintah Kabupaten Samosir atas upaya untuk menggiring dana pusat untuk pembangunan RSU Dr Hadrianus Sinaga. Juga perhatian dan kepedulian terhadap keluarga dari masyarakat yang menyerahkan lahan.

Bupati Samosir Ir Msangindar Simbolon dalam acara yang dihadiri jajaran Muspida tersebut mengatakan bahwa penyerahan lahan untuk lokasi Sekolah dan rumah Sakit adalah suatu bentuk uapaya masyarakat yang jauh ke depan memikirkan kemajuan pendidikan dan kesehatan, "adalah suatu yang patut diacungi jempol, upaya para orang tua kita yang sudah memikirkan pendidikan dan kesehatan". Bupati juga menyampaiakan bahwa menurut konsultan ahli, membangun Rumah sakit tidak sama seperti membangun gedung-gedung atau perkantoran lainnya. Untuk pambangunan Rumah Sakit ada kekhususan yang tentunya sekaitan dengan mutu dan kwalitas. Bupati menambahkan upaya serius pemerintah Kabupaten Samosir untuk meningkatkan kesehatan dari rumah Sakit tipe C tahun 2008 sekarang meningkat menjadi tipe B. Kedepan direncanakan RSU Dr Hadrianus Sinaga dapat menjadi Rumah Sakit setingkat dengan kelas Pariwisata.<< Media Tapanuli