Minggu pagi.
Pagi hari di Dusun Unjur, Desa Ambarita Kecamatan Simanindo, Samosir. Minggu 29/05/2011. Seorang laki-laki berambut panjang dan berpakaian kumal datang dari arah Pangururan. Ia menghampiri warga yang sedang minum kopi di kedai Ama ni Paber.
Tanpa permisis laki-laki itu mengambil rokok peminum dan tak peduli dilarang.
Yang minum di kedai mengatakan dia sudah gila.
Orang gila itu mengeluarkan 6 batang rokok dari bungkus rokok milik warga yang diambilnya.
Tapi ia hanya mengambil 1 batang. Sementara sisanya dibiarkan di atas meja.
Pemilik rokok akhirnya meneberikan semua rokonhya beserta bungkusnya pada orang gila itu.
Si orang gila justeru menolak. ia tidak mau menerima rokok pemberian warga. Seolah-olah ia menjaga harga diri.
Si warga lalu melemparkan rokok itu pada si orang gila.
Si orang gila mengambil rokok tersebut.
Lalu ia menbagi-bagikan pada orang yang sedang minum di kedai itu.
Satu batang satu orang.
Tentu orang di kedai itu tak mau menghisap rokok tersebut dari tangan si orang gila.
Entri Populer
-
Peletakan batu pertama Rumah Sakit Dr Handrianus Sinaga Pangururan Hayun Gultom, Pangururan Rumah Sakit Dr Handrianus Sinaga Pangururan y...
-
Memeriahkan HUT kemerdekaan RI ke-65 di Kecamatan Ronggur Nihuta dilaksanakan di Lokasi Kantor Camat. Dihadiri anak-anak sekolah SD, SMP...
-
Hanya diberi lima pelor, jika hilang dua, komandan kompi bertanya "dimana pelormu dua lagi" Kata seorang veteran bermarga Sinu...
-
Dianggap sebagai tindakan penghinaan serta perbuatan tidak menyenangkan. Seorang staf di Kantor Dinas PU dilaporkan oleh seorang wartawan ke...
-
Minggu pagi. Pagi hari di Dusun Unjur, Desa Ambarita Kecamatan Simanindo, Samosir. Minggu 29/05/2011. Seorang laki-laki berambut panjang d...
-
Babi lepas, PAD bertambah Samosir, Pangururan Ternak babi berkeliaran di Onan Baru Pangururan. M eski pemerintah berusaha supay...
Minggu, 29 Mei 2011
Jumat, 27 Mei 2011
Staf Dinas PU Samosir dilapor ke Polisi
Dianggap sebagai tindakan penghinaan serta perbuatan tidak menyenangkan. Seorang staf di Kantor Dinas PU dilaporkan oleh seorang wartawan ke Mapolres Samosir. Kejadiannya di Kantor Dinas PU pada 27/05 saat para rekanan mendaftarkan perusahaanya untuk mengikuti tender di Kantor tersebut.
Sekitar pukul 10.00 dua orang wartawan memasuki ruangan pendaftaran. Seorang rekanan sedang mendaftar di meja panitia. Salah satu dari wartawan menanyakan pada staf yang menerima pendaftaran siapa-siapa saja yang menjadi panitia dalam proses pendaftaran tersebut. Staf tidak menyebutkan nama-nama panitia melainkan ia mengatakan panitia sedang pergi pelatihan. Ia sendiri mengaku bukan panitia. Sehingga ia tidak memberi keterangan sekaitan dengan proses pelelangan tersebut. Karena mengaku bukan panitia tapi ia menerima rekanan yang mendaftar sehingga seorang wartawan mendokumentasikan staf tersebut sedang menerima pendataran.
Spontan staf menghentikan proses pendaftaran tanpa alasan. Kemudian ia marah pada wartawan "kenapa saya diphoto, apa hak kalian memotho saya, saya tidak mau diphoto. Beberapa detik kemudian sirekanan juga marah pada wartawan. Sambil berdiri ia mengatakan "terus sehebat apa kalian wartawan itu, besok saya bisa dapatkan 200 kartu pers". Kemudian ia berlalu dan keluar ruangan.
Sekitar dua menit kemudian sirekanan datang lagi. Ia mendekati wartawan dan mengatakan dengan nada tegas "jangan foto-foto, jangan kau foto saya, saya tidak takut pada siapapun".
Merasa dihalangi dalam melaksanakan tugas wartawan meloporkan sirekanan dan staf PU tersebut ke Polres Samosir.
Sekitar pukul 10.00 dua orang wartawan memasuki ruangan pendaftaran. Seorang rekanan sedang mendaftar di meja panitia. Salah satu dari wartawan menanyakan pada staf yang menerima pendaftaran siapa-siapa saja yang menjadi panitia dalam proses pendaftaran tersebut. Staf tidak menyebutkan nama-nama panitia melainkan ia mengatakan panitia sedang pergi pelatihan. Ia sendiri mengaku bukan panitia. Sehingga ia tidak memberi keterangan sekaitan dengan proses pelelangan tersebut. Karena mengaku bukan panitia tapi ia menerima rekanan yang mendaftar sehingga seorang wartawan mendokumentasikan staf tersebut sedang menerima pendataran.
Spontan staf menghentikan proses pendaftaran tanpa alasan. Kemudian ia marah pada wartawan "kenapa saya diphoto, apa hak kalian memotho saya, saya tidak mau diphoto. Beberapa detik kemudian sirekanan juga marah pada wartawan. Sambil berdiri ia mengatakan "terus sehebat apa kalian wartawan itu, besok saya bisa dapatkan 200 kartu pers". Kemudian ia berlalu dan keluar ruangan.
Sekitar dua menit kemudian sirekanan datang lagi. Ia mendekati wartawan dan mengatakan dengan nada tegas "jangan foto-foto, jangan kau foto saya, saya tidak takut pada siapapun".
Merasa dihalangi dalam melaksanakan tugas wartawan meloporkan sirekanan dan staf PU tersebut ke Polres Samosir.
Langganan:
Komentar (Atom)